kado terindah


"sahabatku yang cantik selamat ulang tahun yaaa
jangan terlalu sibuk dengan kerjaan.
kamu juga punya hak untuk memikirkan dirimu sendiri :)
semoga tetap sehat, berlimpah berkah, dan dikelilingi kebahagiaan
aamiin
sahabat yang menyayangimu,
Riva"

Begitulah isi pesan yang sampai di telepon genggamku tepat pukul 00.00 pagi ini. Sahabatku, Riva memang seperti itu. Setiap kali aku berulang tahun, hampir dapat dipastikan dirinya adalah orang pertama yang mengirimkan pesan singkat untukku melalui telepon genggam.

hhh~

Aku menghembuskan nafasku ke udara. Hari ini usiaku bertambah. Perlahan meninggalkan usia muda. Kini bukan kue tart dan alunan lagu selamat ulang tahun yang aku dapatkan. Namun doa dan harapan dari keluarga, sahabat, dan kerabat yang memenuhi hari spesialku ini. Dan menurutku, hal ini seribukali lebih baik daripada sorak dan hiruk-pikuk nyanyian selamat ulang tahun.

Aku merasa begitu bahagia. Diliputi orang-orang yang menyayangiku. Dan hari ini aku bergegas menuju kediaman orang tuaku.Sebulan sudah aku belum berkunjung menemui mereka yang semakin menua. Ayah dan Ibu hanya ditemani Kakak dan istrinya yang tinggal bersebelahan.
***
"Nak, selamat ulang tahun ya.. Ini Ibu sudah buatkan nasi uduk buat kamu. Karna Ibu tau kamu akan kemari" ucapnya begitu lembut dan menenangkan hati, diiringi kecupan hangat di dahiku.
           
Aku melihat senyum Ibu yang selalu sama, walaupun kini keriput di wajahnya semakin kentara. Namun kecantikan yang terpancar tak henti memudar. Wajar saja kalau Ayah begitu mencintai Ibu yang sangat lembut dan penuh kasih itu.
           
Aku dan keluargaku sudah berada di meja makan dan bersiap menyantap hidangan yang telah Ibu persiapkan sebelumnya. Menurutku tentu saja masakan Ibu adalah yang terbaik seantero jagat ini. Karna aku tahu, masakan yang Ibu buat dibarengi dengan cinta dan ketulusan yang tak berwujud namun kental terasa.
***
Aku segera membasuh wajahku dan bersiap untuk tidur. Tiba-tiba aku mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu kamarku dari luar. Segera aku membukakan pintu kamarku yang mulai usang termakan usia itu. Sesosok wanita yang paling kucinta muncul dengan kesejukan sorot matanya. Iya. Ibuku datang mengetuk pintu kamarku.
           
“Kania, apa Ibu mengganggumu dengan mengetuk pintu kamarmu di waktu larut ini?” Ibu memulai pembicaraan dengan sangat sopan. Dan kalau aku boleh jujur, memang sebenarnya kondisi fisikku begitu lelah karna menempuh jarak Jakarta-Bandung yang lumayan menguras energiku hari ini. Tapi anak mana yang tega menolak ketulusan seorang Ibu yang mungkin rindu untuk sekadar mengobrol bersama anak perempuan satu-satunya itu?
           
“Nggak kok Bu. Kania baru selesai cuci muka aja. Ibu kangen sama aku ya? Hehehe”
           
“Iya Teh, Ibu kangen banget sama Teteh. Ohya gimana pekerjaan di Jakarta? Lancar aja kan?” percakapan malam ini benar-benar membuatku rindu akan masa lalu ketika aku bisa sepuasnya bercerita tentang banyak hal pada Ibu.
           
Banyak sudah yang kuceritakan pada Ibu hingga tak terasa malam semakin larut dan pipi kami basah oleh air yang mengalir dari sudut mata. Aku tahu Ibu khawatir akan diriku yang kini menginjak usia 27 tahun, dan masih ‘sendiri’. Ibu mengingatkan agar aku tak terus berfokus pada pekerjaanku. Rasanya nasihat Ibu dan sahabatku tak jauh berbeda. Mereka menyarankanku untuk segera memiliki pendamping untuk melengkapi kebahagiaanku.
           
Aku berusaha sekuat tenaga untuk menahan pecahnya tangisku didepan Ibu. Aku tak mau membuatnya semakin khawatir. Baru setelah Ibu menyelesaikan percakapan dan menuju kamar, diam-diam aku menangis ditengah kesunyian malam. Hingga tak kurasa, aku terlelap bersama bantal yang basah karena tangisanku malam itu.
***
           
Brukk.. tak sengaja aku menjatuhkan tas dan folder-ku dibarengi dengan bertabrakan dengan seseorang saat jalan menuju elevator dan bergegas menuju ruang kerjaku. Sontak aku membereskan seluruh benda yang ku bawa, yang berserakan di lantai kantorku.
           
“Kania?” ucap pria itu ragu-ragu.
           
Otakku memerlukan beberapa saat untuk memproses, siapakah seseorang yang aku tabrak ini. Hingga aku mendapatkan petunjuk bahwa seorang pria rapi berdasi ini adalah Rasya. Ia temanku saat di SMA dulu.
           
“Rasya? Wah gak sangka ya bisa ketemu disini. Lagi ada perlu apa Sya?” aku membalas sapaannya dengan wajah bersinar. Detik selanjutnya aku menyadari bahwa perasaanku untuk Rasya belum sepenuhnya hilang.
           
“Oh ini ada meeting sama Pak Tama. Karna perusahaan yang gue pegang sekarang rencananya emang mau ada proyek bareng perusahaan Pak Tam. Hmm jangan bilang lo kerja disini?”
           
“Hahaha emang kenapa kalau iya?”
***
“Saya terima nikahnya Kania Sabila binti Yusuf Putra dengan mas kawin tersebut tunai…”
Siapa sangka pertemuan kembali yang singkat itu mengubah hidupku. Rasya Darmawan resmi menjadi suamiku tepat 3 bulan setelah hari ulang tahunku. Tak terukur bahagia yang aku rasakan kini. Terima kasih Tuhan, Kau jawab penantianku dengan kembali menghadirkan Rasya dalam hidupku.
Kini aku semakin yakin bahwa segalanya telah ditakdirkan Tuhan. Begitu juga dengan peristiwa yang ku anggap ‘kebetulan’. Karna tak ada kebetulan yang bukan takdir Tuhan :)


Salam,
Ajeng S.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pamitran 2013

SEMBUNYIMU PAGI INI