Sesederhana Bahagia



Sekitar pukul 01.00 dini hari aku menjejakkan kakiku dirumah kedua orangtua di Jakarta. Aku kembali ke rumah dalam waktu selarut itu tentunya memiliki alasan tersendiri. Karena tiga hari kemarin aku bersama tiga sahabatku bermaksud menyegarkan pikiran dan pergi ke Jogjakarta.
            Belum banyak dan kentara pegal yang aku rasa diawal pagi ini. Hingga setelah aku membasuh diri, aku dengan mudah melanjutkan aktivitas berikutnya yang sangat ku tunggu semenjak di kereta tadi. Hal yang kumaksud ini adalah tidur. Ya karna di kereta meskipun aku tertidur, pastinya tak akan mendapatkan kualitas tidur yang cukup baik dan kurang nyenyak.

***

            “Syafa, kamu mau berangkat ke Bogor jam berapa? Ini udah mau jam 4. Nanti kesorean. Hayoo buruan bangun” Mama berkali-kali membangunkanku dan menyuruhku untuk bersegera merapikan barang bawaan untuk kembali ke Bogor. Namun karena perjalanan beberapa hari sebelumnya yang menurutku begitu menguras energi, maka kelopak mata ini sungguh berat dan sulit ku ajak kompromi.
            “Iya Mam, 15 menit lagi Syafa bangun. Masih ngantuk” hanya jawaban seperti itu yang bisa ku berikan pada Mama sore ini. Sembari memasang alarm, aku melanjutkan tidurku yang tersisa 15 menit lagi.
            “Mam, Aku udah rapi. Udah siap balik lagi ke Bogor. Doain biar kuliahku lancar dan cepat lulus ya Ma” ucapku sambil mencium tangan Mama dan mengecup kedua pipi Mamaku ini.
            “Iya. Mama doain biar kamu kuliahnya lancar dan cepat lulus. Ohya kamu juga harus jaga kesehatan ya? Soalnya sudah masuk musim hujan” pesan Mamaku.
           
***

            “Persiapan kepada penumpang commuter-line tujuan Pasar Minggu, Depok, Bogor. Rangkaian kereta akan segera memasuki jalur enam dari arah utara. Dan kami imbau kepada penumpang yang akan naik untuk mendahulukan penumpang yang akan turun…”
          Suara dari petugas stasiun Manggarai dengan kalimat yang sama telah ku dengar untuk ketiga kalinya. Maklum saja karna sudah dua rangkaian kereta sebelumnya aku lewatkan dan ku biarkan melaju lebih dulu tanpa aku ikut bersama rangkaian kereta tersebut. Hal ini karena hujan yang turun belakangan di daerah Jakarta dan sekitarnya membuat jadwal kereta commuter-line menjadi kacau dan penumpang menumpuk di stasiun Magnggarai dan mungkin di stasiun lain sebelum Manggarai. Dan dua kereta sebelumnya sangat padat dan tak memungkinkanku untuk memaksa masuk kedalamnya.
            Semoga saja kereta ini kosong, Yaa Tuhan. Begitu doaku dalam hati setelah mendengar pengumuman petugas dari pengeras suara di stasiun. Dengan sedikit terhimpit dan terdorong, aku berhasil memasuki gerbong khusus wanita yang berisi penumpang wanita yang berjejalan didalamnya. Ah syukurlah walaupun sebegini kurang nyaman, aku masih mendapatkan tempat untuk berdiri dan berpegangan pada tempat yang disediakan.
            Selama perjalanan aku menggendong tas ranselku di depan. Sedangkan satu eco-bag aku biarkan berada dibawah, dekat kakiku. Sungguh lelah. Beberapa kali aku berpikiran bahwa hari ini aku ingin segera sampai kost dan tidur. Aku tak yakin aku bisa tersenyum hari  ini. Begitulah pikiranku yang segera terlintas setelah memikirkan lelahnya perjalanan dari Jogja dan kini harus melanjutkan perjalanan Jakarta-Bogor dengan kondisi didalam kereta yang sangat berdesakan.

***

            Langit mulai gelap ketika aku sampai di stasiun Bogor sekitar pukul 18.15 WIB. Dengan langkah terburu-buru aku menuju seberang jalan untuk menumpang angkutan umum menuju terminal Laladon, Bogor.
            Nampaknya shalat maghribku akan terlewat. Beberapa kali kalimat itu muncul dalam benakku. Tentu saja aku terus meminta maaf pada Tuhan atas kelalaianku hari ini. Namun ternyata tak perlu waktu lama untuk angkutan umum yang ku tumpangi untuk segera menuju terminal Laladon karena penumpang segera memenuhi kuota ‘4-6’ yang selalu diutarakan sang sopir.
            Aku sampai di terminal Laladon. Aku melihat jam di tanganku menunjukkan pukul 19.00. aku kira maghrib masih belum berakhir. Maka aku menyempatkan untuk menepi sejenak untuk menunaikan kewajibanku kali ini yang hampir aku lewatkan.
            “Waduh udah gelap banget. Angkot kampus dalam mana ya? Tadi perasaan ada disini deh…”  begitu pikirku malam ini.
            Aku menyusuri jalan sekitar terminal Laladon dan berusaha mencari angkot ‘kampus dalam’ diantara angkot menuju Ciampea dan Leuwiliang yang jauh lebih banyak malam ini. Dan itu dia!! Dari kejauhan aku melihat satu angkutan umum berwana biru yang bertuliskan ‘Kampus Dalam’ dan masih dalam keadaan belum terisi penuh.
            Aku memutuskan untuk menduduki bagian tengah dari kursi ‘4’ angkot. Tak lama kemudian penumpang lain mulai menaiki angkot yang aku tumpangi. Dalam hati aku bergumam semoga cepat penuh dan lekas berangkat angkot ini agar aku dapat segera beristirahat di kamar kostku.
            Ketika angkot mulai penuh, ada seorang penumpang laki-laki yang kelihatannya baru kembali dari perjalanan jauh atau naik gunung karena ia membawa carrier dan satu tas lagi yang dijinjing. Diwajahnya terlukis kata ‘lelah’.
            Tanpa sadar aku memerhatikan lelaki itu. Wah kayaknya dia habis naik gunung deh, kasian  bawaannya banyak banget. Dalam hati aku berkata begitu, padahal barang bawaanku tak kalah banyak dengan yang dibawanya.
            Diam-diam aku tersenyum karena melihatnya. Entah alasan apa yang membuat bibirku mengulas seutas senyum tipis kala melihatnya. Dan entah alasan apa pula yang membuatku merasa bahwa aku mengenal wajah itu.
            Kemudian dua penumpang terakhir menduduki kursi ‘4’ disamping kiriku. Hal ini menyebabkan aku tersadar dan berhenti menatap lelaki itu. Karena ia duduk di kursi tambahan tepat di pintu angkot dan membuatnya terhalang dari pandanganku.
            Aku kembali tersenyum ketika  tanpa sadar aku merasa penasaran dan melihat bayangan sosok pria dengan carrier dan tas jinjing didepan pintu angkot. Dengan sedikit mencuri pandang, aku dengan tubuh tak terlalu besar ini sukses bersembunyi dibalik dua penumpang disebelah kiriku dan menatapnya dalam diam, kemudian tersenyum.

***
            Aku sempat menyesali doaku sebelumnya agar aku segera sampai di kost. Karena hari ini perjalanan Laladon-Babakan Lebak begitu terasa singkat. Atau mungkin hal yang ku sesali adalah cepatnya waktu berlalu dan membuatku harus segera menuruni angkutan umum dan bergegas masuk ke dalam kost sebelum gerbang dikunci penjaga kostanku.
            Sampai kost berarti juga berpisah dengan sosok lelaki dengan carrier hari ini. Biarlah walaupun singkat dan tanpa makna yang jelas, wajah lelaki berkaus ungu bertuliskan ‘Thailand’ itu cukup membuatku melupakan penat dan lelahku akan perjalanan yang benar-benar super ini.
            Dan aku akan mengingatnya sebagai penghilang penatku hari ini. Sebatas itu saja. Terima kasih Tuhan, walau singkat namun menghadirkannya hari ini membuatku membatalkan anggapan sebelumnya dan dapat tersenyum lepas malam ini. Dan ada sedikit doa yang berbeda sebelum aku tidur malam. Aku menambahkan kalimat ini sebelum aku mengucap “aamiin”.
…Semoga nanti (yang entah kapan) kita dapat dipertemukan kembali. Setidaknya aku ingin tahu siapa namamu.


Salam Hangat,
Ajeng S.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pamitran 2013

kado terindah

SEMBUNYIMU PAGI INI