Catatan Harian Turun Lapang (Desa Cigombong) *latepost*
Desa Cigombong sudah memiliki ruang
tersendiri dalam memori kelompok delapan persosped. Karena dari sana, banyak
pelajaran hidup yang kami dapat. Misalnya saja kesederhanaan dan kebersamaan.
Seperti kelopmpok persosped lainnya, kelompok kami sudah diberi tugas untuk
mencari dan menganalisis realita yang terjadi sesuai dengan tema yang sudah
ditentukan sebelumnya. Dan tema yang kami dapatkan adalah ‘konflik’. Jika boleh
jujur masalah konflik memang sangat sensitive untuk dikulik. Namun inilah yang
kami dapatkan dari Cigombong.
Sejuk. Itulah kata pertama yang
dapat melukiskan desa ini, dan di hari pertama sudah tentu kami masih meraba
untuk menentukan kegiatan apa yang akan dilakukan di Desa Cigombong. Maka hal
pertama yang kami lakukan adalah mencari stakeholder
yang berada disana. Dan hasilnya kami putuskan untuk menemui ketua RT 05
(wilayah yang kami singgahi. Maka sekitar pukul 17.00 WIB beberapa anggota
kelompok kami, yang diantar oleh Sinta (anak dari keluarga yang rumahnya kami
tempati) menuju rumah Pak RT atau yang biasanya disapa “Abah”. Namun kami tidak
berhasil menemui beliau karena Abah sedang berada di luar rumah. Sehingga kami
akhirnya mengobrol bersama Ambu yang merupakan istri dari Abah. Pada awalnya
kami menangkap sinyal keengganan Ambu untuk menemui kami. Ternyata hal tersebut
dikarenakan Ambu sebelumnya berada didalam rumah dan tidak mendengar adanya
Sinta yang memanggil Ambu. Namun setelah mengobrol bersama Ambu, beliau cukup
ramah dan menanggapi pertanyaan kami dengan antusias. Beliau juga bercerita
mengenai masa kepengurusan Abah sebagai RT yang suudah melebihi 30 tahun.
Selain itu Ambu juga menuturkan bahwa diwilayah RT 05 ini jarang terjadi
persellisihan antar warga, walaupun sampai saat itu banyak warga pendatang ke
daerah tersebut
Hari kedua kelompok kami ditemani
Pak Mul (pemilik rumah) dan Sinta pergi ke daerah wisata Danau Lido yang berada
tidak jauh dari tempat yang kami singgahi tersebut. Pak Mul juga memiliki rakit
yang biasanya digunakan untuk mengantar wisatawan yang berkunjung untuk
mengelilingi danau tersebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa suasana di danau
begitu indah. Bahkan pemandangan yang kami anggap tidak biasa adalah sekitar
danau yang dimanfaatkan warga sekitar untuk bertanam padi sawah. Namun hasil
wawancara dari beberapa narasumber kami menyebutkan hal yang tidak senada
ketika ditannya mengenai sawah tersebut. Narasumber satu menyebutkan bahwa
warga yang menanam disana merupakan petani illegal yang tidak mendapat izin
dari pengelola danau, namun di narasumber lain menuturkan bahwa petani di sawah
tersebut buakan petani illegal karena mereka membayar semacam biaya sewa kepada
pihak perusahaan. Selain itu, di dataran sekitar danau kami juga menemui
narasumber (Ibu Acih) yang mengisahkan bahwa sabelumnya ia adalah warga sekitar
danau yang terkena pembebasan lahan guna perluasan wilayah wisata tersebut. Interview kami lanjutkan pada pihak
manajemen tempat wisata tersebut. Kemudian sore harinya setelah menyelesaikan
tugas survey dilapangan, anggota kelompok kami yang laki-laki diajak oleh Pak
Mul untuk menghadiri rapat desa untuk membahas mengenai mekanisme pemilhan
ketua RT yang baru di wilayah itu.
Hari terakhir di Desa Cigombong
ternyata menorehkan cerita yang lebih seru lagi. Karena tepat pada tanggal 22
Desember 2013 pemilihan ketua RT yang baru dilaksanakan. Bahkan hujan pada
siang itu tidak menyurutkan semangat warga untuk menlaksanakan ‘pemilu’
tersebut.
Kami
semua diundang Pak Mul untuk menghadiri acara tersebut. Kak Dika dan Apri
mengabadikan momen tersebut melalui kamera yang sudah kami persiapkan
sebelumnya, kemudian Patra dipercaya untuk menjadi pencatat hasil suara pilihan
warga. Sementara yang lain menjadi ‘tim hore’ bersama warga sekitar. Setiap
kali dibacakan nomor urut calon, para warga yang didominasi kaum ibu serentak
bersorak. Dan jika sudah mulai sepi, maka ibu yang lain berteriak memancing
keramaian suasana disana. Sangat seru dan hangat pemilihan RT yang dimenangkan
oleh Abah tersebut. Hal ini semakin mengukuhkan posisi Abah sebagai ketua RT
yang menjabat bahkan melebihi rezim Soeharto itu. Setelah acara pemilihan
usai, kami diundang warga untuk makan
bersama. Rasanya belum rela untuk secepat itu meninggalkan Cigombong. Namun
nyatanya hari itu adalah hari terakhir kami berada disana. Dan kalimat yang kami
ingat dari Pak Mul ketika kami meminta pesan beliau untuk kelompok kami adalah:
“..kalau nanti sudah pada berhasil dan ada yang
jadi pejabat, tolong ingat Cigombong ini dan bantu warga untuk memajukan
Cigombong…”
Semoga saja nanti aku berkesempatan kembali ke Cigombong dan berbagi senyum serta bahagia bersama mereka disana :)
Salam Manis,
Ajeng S.
Komentar
Posting Komentar