Hakikat Cinta

Seekor anak rusa berjalan guntai ditengah padang luas. Ia mencari dimana induknya berada. Ia merasa baru saja ia pergi mencari seteguk air untuk menuntaskan dahaga. Baru saja ia merasakan sedikit kebahagiaan dengan meminum mata air jernih itu.

Ia lelah berjalan dalam pencarian. Air mata sudah tersungging enggan menetes dari pelupuk matanya. Ia tak pernah menangis sebelumnya. Ia belum pernah merasa sesepi ini. Hari mulai gelap. Sang mentari memudar dan digantikan dengan sinar lembut rembulan yang bersemu. Dari kejauhan ia melihat siluet. Iya siluet yang amat ia kenal. Sang induk. Tanpa peduli lelahnya berjalan seharian, ia menghampiri sang induk dan berkata: “kenapa kamu meninggalkan aku sendirian seperti ini?” kemudian dengan senyum lembut yang masih sama, sang induk menjawab: “nak, jika kamu terus bersamaku.. kamu tidak dapat menentukan jalan mana yang kamu pilih. Kamu tidak akan tahu bahwa kamu dapat berjalan sejauh itu. Dan kamu tak pernah sadar bahwa kamu telah dewasa”

Anak rusa itu mengerti kemudian. Ia menganggukkan kepalanya lemah. Kini ia tahu sang induk tak pernah berniat untuk meninggalkannya sendiri. Karna sang induk tahu bahwa cinta adalah kerelaan melepaskan. Ia rela melepaskan sang anak untuk mendewasa. Rela melepaskan untuk jalan hidup yang lebih baik. Meski ia sadar pasti dalam perjalanan, sang anak merasa sepi. Namun ia yakin, cinta akan menuntunnya untuk kembali.

Itulah kawan, hakikat cinta yang berkaitan erat dengan melepaskan. Itulah ujian cinta terberat, ujian cinta tertinggi. Ujian cinta bukan hanya kau mencintai seseorang, lalu seseorang itu mengacuhkanmu. Atau bukan pula kau mencintai seseorang, dan ia mencintai orang lain. Bukan. Sekali lagi bukan. Ujian terberat adalah melepaskan dan mempercayai bahwa cinta pasti kembali dengan wujud yang mungkin berbeda namun jauh lebih kuat



*Tullisan ini terinspirasi dari postingan Fanpage Darwis Tere Liye :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pamitran 2013

kado terindah

SEMBUNYIMU PAGI INI